Diposkan pada Elex Media Komputindo, Lokal, Review

[REVIEW] Dirt on My Boots – Titi Sanaria

IMG20171106154743-01-01Judul: Dirt on My Boots
Penulis: Titi Sanaria
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2017
Tebal: 292 halaman
ISBN: 978-602-04-4723-0

[Blurb]

Entah ini kutukan atau anugerah, tapi ada banyak laki-laki tampan di kantorku.

Bos besarku masih menawan di usianya yang sudah enam puluhan, namun tentu saja dia bukan pilihan potensial. Aku mencari kekasih, bukan ayah angkat. Lalu Pak Freddy, laki-laki paling tampan di kantor. Dia punya senyum maut yang sayangnya hanya diperuntukkan istrinya. Masih ada pria yang tidak kalah tampan di divisiku lho, dan mereka lajang!

Hore…? Tidak juga.

Putra lebih muda dariku, dan menjalin cinta dengan berondong tidak ada di daftarku. Sandro lebih tua, tapi aku tak menemukan ada aliran listrik yang tiba-tiba menyambar saat kami berdekatan. Tidak ada ribuan kupu-kupu yang tiba-tiba membentuk koloni, bersarang, dan mendadak mengepak bersamaan di perutku.

Lalu Pak Andra, bos baru di kantorku yang memiliki bokong terindah di dunia. Ya, dia potensial. Tampan dan pintar, dua keunggulan yang hanya dimiliki satu dari seribu laki-laki di dunia. Barangkali masalahnya ada pada diriku. Aku jelas bukan calon potensial baginya. Aku tidak memiliki apa yang diharapkan olehnya, atau lelaki lainnya di dunia ini. You know what I mean—sesuatu yang besar di bagian tubuhmu. Tapi yang jadi masalah, seharusnya sejak awal aku tidak jatuh cinta pada laki-laki yang tidak mempercayai komitmen seperti dia.

Kebingunganku semakin berlimpah-ruah, ketika suatu pagi aku terbangun di sebuah ranjang dan mendapati sosoknya berada di sampingku. Semenjak itu pikiranku kian terusik. Apa yang sudah kulakukan dengan bosku? Atau, tepatnya, apa yang telah bosku lakukan kepadaku?

***

[Review]

Melihat foto, pasti menilai bahwa ini bukan foto yang cocok dipadankan dengan review buku. Tapi bagi saya cukup cocok, saya kehilangan fokus seharian karena membaca Dirt on My Boots. Entah selera humor saya yang terlalu receh atau otak saya sudah sekelas otak mesum Sita, saya benar-benar tidak tahu.

Sita, seperti yang telah disebutkan di blurb kemarin, adalah penggemar bokong seksi. Persis seperti saya /digeplak/ bahkan Sita sempat menikmati pemandangan bokong seksi orang asing di lift kantor. Meski sempat parno karena menyangka pria itu adalah pembunuh, Sita tetap tidak menafikkan kalau ia menikmati pemandangan indah itu.

Keesokan harinya, kantor Sita kedatangan bos baru, menggantikan pak Freddy yang brbokong seksi namun telah beristri. Betapa terkejutnya Sita ketika mendapati bos ganteng barunya ternyata adalah si bokong seksi yang ia jumpai di lift kemarin.

Oh … no. Welcome to the hell, Fellas! Bisa membayangkan betapa malunya Sita? Ya begitulah.

Aku cukup dikejutkan dengan tulisan kak Titi Sanaria yang tergolong berani. Sekilas celetukan-celetukan mesum dan vulgar novel ini mengingatkanku pada Wallbanger, seruuu! Terlebih DOMB dikemas dengan bahasa yang santai dan sangat ‘lokal’ membuatnya lebih mudah dicerna, bahkan oleh yang masih polos seperti aku /dilempar bakiak/

Akhir-akhir ini aku begitu keranjingan dengan office-romance. Dirt on My Boots benar-benar memenuhi dahagaku akan kisah romansa kantoran. Panggilan formal ‘Pak’ entah kenapa selalu membuat saya klepek-klepek, nggak heran kalau saya benar-benar jatuh cinta dengan kisah mereka.

Sita adalah tipikal manusia yang suka mengungkapkan apa saja yang terlintas di kepalanya, termasuk hal-hal mesum dan candaan sensual. Los tanpa rem, tanpa sensor, benar-benar bermulut murahan. Bukan hanya sekali Sita terciduk oleh bosnya ketika ia sedang menggosipkan pria tersebut. Aku suka sekali dengan karakter Sita di sini, sok iyes padahal sebenarnya nol besar. Yang terpenting, dia tidak ngesot-ngesot mengejar pak Andra meski bosnya itu memiliki bokong seksi yang aduhai.

Ditambah, teman segeng di kantornya juga sama bocornya dengan Sita. Putra, Sandro, dan Raisa ditambah Sita sangat klop dan fasih bila membicarakan hal-hal eksplisit berbau seksual. Namun meski demikian, semuanya dikemas dengan bahasa yang santai sehingga tidak terasa menjijikkan bagi saya pribadi. Saya malah suka! Terlebih kelemotan Raisa turut menyemarakkan suasana.

Pak Andra, atau Fendy, si bokong seksi yang kini menjadi bos Sita, adalah tipikal makhluk penggila melon. Playboy sejati, phobia terhadap komitmen, dan menganggap cinta adalah omong kosong, juga sangat menyebalkan bagi Sita. Dengan standar melon dan sikap skeptisnya, Sita sama sekali enggan dekat-dekat dengan pak bos yang berselera tinggi dan kerap membuatnya kesal.

Selain mereka, terdapat tokoh lain di luar kantor. Seperti Sofi, sahabat Sita yang menjadi tempat sampah pribadi. Juga kak Gian, kakak Sofi yang gemar mengajak Sita keluar dan menjadikannya tameng dar rombongan gadis-gadis genit.

Haloh, mohon maaf kemarin absen. Kemarin aku ada kesibukan yang tidak bisa ditunda dan sedang dalam kondisi psikis yang kurang baik karena ada masalah. Jadinya untuk menebus, malam ini aku akan posting juga untuk final review-nya.

Lupakan aku dan masalahku yang lebay. Kita kembali pada kemesuman Sita and the gank dan pak Andra yang berbokong seksi. Kemarin sudah kusebutkan sebagian tokoh-tokoh yang mengambil bagian dalam Dirt on My Boots.

Sudah kusinggung secara singkat juga tentang karakteristik tokohnya, terutama Sita dan pak Andra. Nah, inilah yang menjadi cikal-bakal konflik utama dalam buku ini. Pak Andra yang phobia komitmen dan playboy sejati, Sita yang skeptis bahwa pak Andra dapat berubah menjadi laki-laki yang bersahabat dengan kata komitmen.

Ditambah, latar belakang pak Andra yang gemar mengoleksi mantan kekasih cantik dan seksi sedikit-banyak memengaruhi Sita, yang selalu merasa dirinya tak akan ada bedanya dengan wanita-wanita bekas pak Andra.

Ditulis melalui sudut pandang orang pertama (Sita), aku memahami apa yang menjadi pergolakan batin Sita dan segala keresahannya. Sebagian besar permasalahan diambil dari sudut pandang Sita /yaiyalah Ai/ membuat aku kepo dan penasaran bagaimana konflik mereka dipandang melalui sudut pandang pak Andra. Pasti seru kalau dibuat Dirt on My Boots versi pak Andra /ngarep wkwkwk/

Ini kali pertama aku membaca tulisan kak Titi Sanaria, dan aku jatuh cinta setengah mati! Meski kata teman-teman Dirt on My Boots sama sekali berbeda dengan tulisan-tulisan terdahulu kak Titi, tapi rasanya gaya penulisan DOMB sudah menjadi ‘makanan’ sehari-hari kak Titi.

Candaan vulgarnya sangat … wow! Di beberapa bagian aku sampai dibuat tersipu malu. Karena aku belum pernah membaca versi Wattpad, aku tidak bisa membandingkan kadar kevulgarannya meski menurut teman-teman versi mayor sudah banyak yang dipenggal.

Baru kali ini aku membaca karya penulis lokal yang sangat berani menyajikan candaan mesum pada hampir setiap bagiannya. Nuansa komedi-romantis sangat terasa di dalam buku ini. Konsisten dari awal hingga akhir! Setiap kalimatnya ditulis dengan pas, aku tidak menemukan satu pun kalimat yang tidak sedap dibaca.

Meski konflik yang dibawakan sudah cukup umum, namun penulis mengolahnya dengan ciamik. Endingnya manis, tidak neko-neko, namun bagiku pribadi kurang nendang, atau ini bisa jadi karena aku ingin buku ini lebih tebal dari 300 halaman saking cintanya aku dengan DOMB.

Oh, sudah kusebutkan bahwa novel ini mengambil sudut pandang Sita sebagai orang pertama, namun prolog dan epilog ditulis melalui sudut pandang pak Andra. Hal ini membuat pembaca lebih mudah memahami perasaan masing-masing tokoh. Suka dengan keputusan kak Titi yang memilih untuk menuliskannya begini.

Pokoknya, novel ini sangat direkomendasikan bagi siapa pun yang berusia setidaknya 18 tahun. Guyonan seksualnya terlalu eksplisit untuk dibaca oleh adik-adik di bawah umur. Cepatlah besar, Dik, terus baca karya luar biasa ini /syaiton kau Ai/

Type Your Coment Here^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s