Diposkan pada Lokal, Penerbit Ikon, Review

[REVIEW] Jodoh untuk Mira – Alnira

IMG20171116173840-01Judul: Jodoh untuk Mira
Penulis: Alnira
Penerbit: Ikon
Tahun Terbit: 2017
Tebal: 269 halaman
ISBN: 978-602-61440-3-4

[Blurb]

Almira–gadis yang bercita-cita menjadi dokter, lalu banting setir menjadi guru bimbingan konseling–pernah merasakan cinta monyet pada usia empat belas tahun. Namu. Kala itu, Mira harus patah hati karena pujaannya hanya menganggapnya adik. Kesedihan Mira bertambah saat Akradani Lawardi, cinta pertamanya, menghilang tanpa jejak sehari setelah ulangtahunnya yang ketujuh belas.

Tujuh tahun sesudah itu, Mira berusaha untuk melupakan perasaannya pada Akradani. Namun, di saat tekadnya sudah bulat, Akradani kembali hadir. Dan, kali ini, pria itu tidak datang seorang diri, tetapi membawa anak kecil yang memanggil Akradani dengan sapaan ‘Ayah’.

***

[Review]

“A real man trust you and advises you. He doesn’t try to invade your personal space or inquire you about everything you do.” –halaman 70

Pada halaman-halaman awal, dikisahkan bagaimana kilas tapak(?) kehidupan Mira, cara dia berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Pekerjaannya sebagai guru bimbingan konseling. Juga, tentang cinta pertama Mira yang ternyata teman abangnya.

Seperti yang telah disinggung di blurb-nya, Mira belum mampu move on dari Akradani Lawardi, atau bang Dani. Kendati bang Dani menghilang tujuh tahun lamanya, ternyata Mira masih menyimpan perasaan kepada sahabat abangnya itu.

Mira menyadari perasaannya masih sama seperti dahulu ketika takdir mempertemukannya kembali dengan bang Dani. Nahasnya, bang Dani datang dengan menggandeng gadis cilik yang memanggilnya dengan sebutan ‘Ayah’. Bisa bayangkan betapa nyeseknya, kan? Mencintai seseorang tapi ternyata orang itu sudah punya gandengan.

Rasanya aku paham bagaimana perasaan Mira, karena baru-baru ini aku mengalami kejadian serupa /maaf numpang curhat wkwk/ tapi yaa bagaimana lagi. Ohiya, Jodoh untuk Mira ini termasuk dalam jajaran buku yang dapat dibaca dalam sekali duduk. Selain halamannya yang tidak terlalu tebal, cara bercerita kak Alnira begitu enak untuk dibaca dan nggak sadar tiba-tiba sudah mendekati akhir.

Kisah ini dituliskan melalui sudut pandang orang pertama, melalui Mira. Meski demikian, rasanya tetap mudah memahami masing-masing tokohnya melalui mata Mira. Harus diakui pula aku suka cara penulis membawakan cerita dengan begitu santai.

Semenjak pertemuan pertama Mira dengan Kania, anak bang Dani, aku jadi makin suka. Interaksi antara Mira dan Kania terasa alami, seolah memang sewajarnya itulah yang terjadi di dunia nyata. Mira begitu keibuan dan sangat memahami Kania, yang omong-omong, telah ditinggal ibunya.

Pada sebagian halaman, kisah masih berputar pada kegalauan Mira yang memiliki perasaan sepihak kepada bang Dani. Meski Mira telah bertekad untuk move on dan melupakan cinta pertamanya, tekad itu dengan mudah runtuh karena semakin intensnya pertemuan-pertemuan di antara mereka.

Hingga pada akhirnya, Mira tahu bahwa perasaan cintanya kepada bang Dani berbalas. Tidak berhenti di situ, takdir tampaknya memang berniat membuat Mira gagal bahagia. Bang Dani akhirnya mengungkapkan alasannya pergi, alasan yang sama sekali tidak disangka. Saya sendiri sebagai pembaca merasa terkejut dan sampai menahan napas ketika masa lalu bang Dani yang sebenarnya akhirnya diungkapkan kepada Mira.

Membicarakan tokoh, saya suka sekali dengan tokoh bang Dani. Dia… bagaimana menjelaskannya ya, intinya dia sangat husband-goal. Rasa tanggung jawabnya yang begitu besar sangat menyentuh hati. Bang Dani yang kelihatannya pendiam dan begitu misterius setelah kembali, ternyata juga sangat penyayang. Terbukti dengan caranya memperlakukan Kania dan Mira. Bang Dani patut diberi tepuk tangan karena berhasil berdamai dengan dirinya dan masa lalu yang sedemikian buruk, padahal aku setengah berharap bang Dani bertahan dengan kekeraskepalaannya. Not everyone can do that. Not me, to be exact.

Lalu ada Mira, tentu saja, sebagai tokoh utama. Mira sangat keibuan dan begitu mencintai Kania dengan tulus. Tapi jujur saya nggak suka dengan Mira yang suka berprasangka dan menarik kesimpulan sendiri tanpa menggali informasi lebih dalam. Gregetan banget sama Mira, pokoknya Mira ini… hmm… cenderung berpikiran pendek. Tapi meski begitu, Mira jago mengambil hati lagi ketika ia berinteraksi dengan Kania. Manis dan rasanya aku kepingin jadi Mira yang bisa cium-cium Kania sesuka hati.

Kemudian ada kakak-kakak Mira, Alin dan Andra yang benar-benar menunjukkan peran mereka sebagai kakak. Tentang bagaimana keluarga memperlakukan satu sama lain, saling mendukung dan selalu membantu dikala ada salah satu yang mengalami kesulitan. Mira begitu terbuka kepada Alin, sang kakak ipar, membuat kita tersadar bahwa inilah memang yang harusnya dilakukan keluarga, saling terbuka dan memberikan masukan bila perlu.

Jodoh untuk Mira mengisahkan tentang cinta lama yang kembali bersemi. Mira dan Akradani kembali dipertemukan setelah Dani pergi dan menghilang tanpa kabar tujuh tahun lamanya. Kembalinya Dani pun cukup mengejutkan karena ia telah memiliki putri cantik bernama Kania.

Ditulis melalui sudut pandang orang pertama lewat Mira, aku jadi benar-benar bisa memahami apa saja yang dirasakan Mira. Dari patah hatinya, harapannya, kebahagiaan, hingga kebingungannya ketika menghadapi Dani.

Chemistry antara Mira dan Dani juga sangat terasa. Seperti… langsung klik saja sejak penulis mendeskripsikan interaksi pertama mereka. Kemesraan mereka yang sederhana dan gombalan Dani yang kadang garing menjadi pelengkap yang makin membuat pasangan ini nyaris bisa disebut sebagai ‘relationship goal’. Cuma, aku terkejut ketika ada adegan bercumbu beberapa paragraf yang lumayan detail pasca adegan salat berjamaah keduanya😅

Bintang dalam novel ini jelas Kania. Sosok Kania begitu menyita perhatian sejak kemunculannya karena keluguan dan kelucuannya sebagai balita. Kania juga menjadi kunci akan dimulainya kembali episode baru hubungan Mira dan Dani.

Ada satu hal yang mengganjal sebenarnya ketika ku membaca buku ini. Masa lalu Mira tidak terlalu diulas, jadi rasanya mengambang gitu. Aku mengharapkan akan ada sedikit kilas balik kan kejadian buruk yang menimpa Mira agar lebih memiliki gambaran jelas.

Selesai membaca novel ini, aku makin yakin dengan pepatah popular yang menyatakan bahwa jodoh tidak akan ke mana. Terpisah bertahun-tahun, kalau sudah berjodoh, pasti kan dipertemukan kembali. Semoga kisahku bisa seindah kisah Mira, meski doi sudah bertunangan kalau doi memang jodohku, pasti batal juga wkwkwk /ditempeleng/

Jodoh untuk Mira sangat direkomendasikan bagi para pembaca cukup umur yang ingin menghabiskan waktu dengan bacaan ringan.

Type Your Coment Here^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s