Diposkan pada Lokal, Review, Scritto Books

[REVIEW] Arimbi – Anjar Lembayung

IMG20180406082758-01Judul: Arimbi
Penulis: Anjar Lembayung
Penerbit: Scritto Books
Tahun terbit: 2018
Tebal: 212 halaman
ISBN: 978-602-51347-0-8

Blurb:

Namaku Arimbi; wanita yang jauh dari kata beruntung. Begitulah aku mendeskripsikan seluruh diriku. Usia yang tak lagi muda, 28 tahun. Seorang guru seni serabutan di sekolah-sekolah elite di Jakarta. Selalu sulit mengatakan tidak ataubisa dibilang aku seorang ‘yes-man’. Lebih memilih berdiam diri di pojokan sambil membaca buku daripada bersosialisasi dengan sekitar. Juga, ehmmm… terlalu baik, lebih tepatnya gampang dibodohi oleh orang yang berkamuflase sebagai sahabat.

Nama Arimbi yang Eyang Kakung sematkan padaku sekarang menjadi kutukan ketidakberuntungan hidup yang kujalani. Tentu saja bukan tanpa alasan aku mengatakan itu sebagai kutukan. Setahuku dewi Arimbi dalam tokoh pewayangan itu adalah sosok buruk rupa. Itu artinya, Eyang Kakung mendoakanku menjadi itik buruk rupa, ya seperti dewi Arimbi itu. Dan benar hal itu terjadi dalam hidupku; menjadi itik buruk rupa di antara gemilangnya teman-teman di sekelilingku.

***

Review:

Arimbi, seperti yang telah disinggung dalam blurb yang sudah kubagikan kemarin, adalah wanita matang yang kurang beruntung. Arimbi kabur ke Jakarta karena tidak tahan dikejar-kejar ibunya agar ia lekas menikah.

Aku sukaaa dengan adegan pembuka ketika Arimbi pertama kali berjumpa dengan Sena–Bimasena. Yang langsung nembak nyebut Arimbi adalah istri Bimasena. Kocak, aselik! Bayangkan saja, ada mas-mas polisi ganteng tiba-tiba nyebut istri di pertemuan pertama 😂 Dewi Arimbi dalam kisah pewayangan memang istri Bimasena, jadilah pak pol kegirangan(?) selalu memanggil Arimbi dengan sebutan ‘Istri Bimasena’. Meski ini baru pertama kali aku membaca karya penulis, aku sama sekali tidak kesulitan beradaptasi dengan gaya menulisnya dan bisa dengan mudah masuk dalam dunia Arimbi yang mirip aku *ngeyel*

Interaksi pak pol Sena dengan Arimbi luar biasa maniiisss, aku sampai dibuat menghalu bakal digandeng dan dibonceng sama pak pol ganteng. Serius, kalau kalian suka kisah-kisah yang manis tapi manisnya cukup dan tidak bikin enek, Arimbi bisa jadi pilihan yang cocok!

Arimbi adalah tipikal manusia antisosial, yang ogah-ogahan berinteraksi dengan orang lain, bahkan tidak punya teman! Yep, benar-benar tidak punya teman sungguhan.

Hal tersebut terjadi karena kenangan pahit yang dialaminya semasa SMA, di mana Arimbi merasa telah dibodohi oleh teman-temannya dalam tanda kutip. Hal tersebut, membuat kepercayaan diri Arimbi jadi jatuh di level terendah, membuatnya menjadi pribadi yang insecure akan apa pun meski sebenarnya ia memiliki banyak sekali kelebihan. Namanya yang sama dan dikaitkan dengan Dewi Arimbi juga turut membuatnya merasa tidak cantik dan berkecil hati.

Pak polisi–Bimasena–justru berkebalikan dengan Arimbi. Sena begitu percaya diri dengan dirinya dan lebih mudah bergaul. Ia juga pribadi yang kalau menurut bahasa kekinian, sok asik, terutama kepada Arimbi.

Intinya, kedua tokoh ini menjadi penyeimbang bagi satu sama lain. Bayangkan kalau Arimbi dan Bimasena sama-sama menjadi makhluk yang pendiam, kasihan calon anak-anak mereka nanti! Wkwkwk 😂

Novel ini mengisahkan perjalanan Arimbi dari yang awalnya hanya bunga dinding menjadi lebih percaya diri dengan dirinya, tidak melulu merasa rendah dan buruk rupa, juga rasa takutnya akan menajalin hubungan romantis dengan seseorang.

Selain itu, novel Arimbi juga menyajikan konflik yang berputar antara persahabatan dan cinta, juga pengkhianatan. Masalah dari masa lalu yang berusaha Arimbi kubur satu persatu mulai menampakkan dirinya.

Kak Anjar sukses membuat aku geregetan ingin lekas menuntaskan buku ini karena penasaran dan bertanya-tanya akan apa yang sebenarnya terjadi. Clue-clue yang diberikan diberikan sedikit demi sedikit membuatku tidak sabar untuk membaca hingga tuntas!

Tak sampai di situ, penulis juga menyisipkan kisah-kisah pewayangan hampir di setiap bagian. Mulai dari nama-nama tokohnya, karakteriasasi, dan jalan cerita. Alaikiiittt. Aku jadi teringat sama pakwek-ku sendiri di kampung yang suka sekali mendongeng kisah-kisah pewayangan kepada kami cucu-cucunya wkwkwk.

Novel Arimbi ditulis melalui sudut pandang orang pertama, yakni Arimbi sendiri, membuat keseluruhan cerita hanya dilihat melalui kacamatanya. Gaya bahasa yang digunakan juga cukup sederhana dan mengalir.

Hanya saja, aku mendapati beberapa saltik dalam novel Arimbi, juga beberapa istilah asing yang tidak dicetak miring. Namun, jumlahnya tidak terlalu banyak, sehingga tidak begitu menggangu.

Untuk setting tempat sendiri, mengambil tempat di Jakarta-Bogor-Jogja. Sedangkan untuk setting waktu, novel ini menggunakan masa sekarang dan juga beberapa kilas balik masa lalu Arimbi dengan teman-temannya. Nah, ini pula yang sempat membuat aku bingung pada awalnya karena tidak ada keterangan untuk membedakan mana yang merupakan flashback, mana yang bukan.

Sudah kusinggung di awal bahwa novel ini cocok dibaca untuk kalian yang suka kisah romansa sederhana yang tidak bikin enek. Itu benar! Terlebih novel ini cukup tipis dan dapat dihabiskan hanya dengan sekali duduk.

Banyak sekali pelajaran yang diselipkan dalam novel Arimbi selain kamu harus selalu bersyukur dan bisa lebih percaya diri akan siapa dirimu. Pengorbanan dalam persahabatan dan cinta terkadang perlu dilakukan demi kebaikan bersama.

Type Your Coment Here^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s