Diposkan pada Indie/Self Publish, Lokal, Review

[REVIEW] KarmaVaro – Ainun Nufus

IMG20180202170625-01Judul: KarmaVaro
Penulis: Ainun Nufus
Penerbit: Diandra Creative
Tahun terbit: 2017
Tebal: 223 halaman
ISBN: 978-602-336-565-4

Blurb:

Varo Chenzo, playboy ibukota yang hobi menaklukkan para wanita. Bertemu dengan wanita penuh pesona yang kemudian menolaknya. Bertemu dengan karma yang menjadi takdirnya. Mampukah yang playboy berhenti dari hobi liarnya?

Geci Afsheen, wanita yang hanya ingin berkenalan dengan pria cinta masa remajanya. Berharap memiliki kenangan indah satu malam. Tapi kenyataan tak semanis harapan. Mampukah Geci menaklukkan sang Playboy? Atau justru dia yang terperangkap dalam genggaman Varo?

——————————————

Varo adalah playboy kelas kakap, ia berganti pasangan sesering ia mengaganti pakaiannya. Malam itu, ia ke klub dan membawa wanita pulang seperti biasanya. Nahas, paginya ia mendapati bahwa wanita yang dibawanya pulang tengah mempermainkannya. Varo dijadikan bahan taruhan!

Geci di sisi lain, awalnya hanya sekadar ingin menyapa Varo. Namun hal itu membawanya jatuh ke tempat tidur sang playboy. Harga dirinya begitu terluka ketika bangun pagi, Varo menendangnya mentah-mentah dari apartemen pria tersebut. Detik itu, ia bertekad untuk tidak akan pernah berurusan lagi dengan Varo.

Sementara itu, Varo yang merasa harga dirinya tercoreng akibat dijadikan bahan taruhan Geci, menjadi gampang murka. Ia mencari Geci untuk menuntaskan perasaan dendamnya. Ketika akhirnya ia menemukan Geci, justru ia mendapati fakta yang sangat mengejutkan.

KarmaVaro bukan karya pertama penulis yang aku baca. Seperti biasa, kak Ainun Nufus menuliskan kisah dengan alur yang rapat dan cepat, membuatku begitu bersemangat membuka setiap lembarannya dan cepat-cepat mengetahui ke mana kisah ini akan di bawa.

Varo adalah seorang playboy yang fobia terhadap komitmen. Ia paling anti terhadap long term relationship, karenanya ia selalu menikmati jenis hubungan singkat tanpa melibatkan emosi apa pun selain kepuasan di tengah sprei kusut.

Namun, ia berubah total pasca bertemu Geci. Varo tidak lagi puas, ia ingin lebih. Ia rela mengubah dirinya dan kebiasaannya. Juga berusaha membuat dirinya berani menghadapi komitmen. Membuat Varo menjadi tokoh favoritku dalam novel ini, meski terkadang si abang ini membuatku gemas karena kerap tergesa-gesa dalam mengambil keputusan dan enggan mendengarkan penjelasan dulu.

Geci, si cewek inosen yang tidak inosen-inosen amat, aku cukup suka dengannya. Geci kokoh tidak mau digantung dengan status tidak jelas dan enggan menerima bantuan finansial dalam bentuk apa pun. Suka dengan ketegasannya meski kadang ia luluh juga oleh pesona Varo. Tekadnya patut diacungi jempol.

Untuk tokoh pendamping, aku suka sekali dengan Dios yang dewasa dan mampu menjaga kewarasan Varo saat berada di puncak kesintingannya akibat Geci. Dios benar-benar abang-able; ia baik, charming, dan tidak segan untuk langsung bertindak apabila mendapati orang-orang di sekitarnya perlu ditolong.

Setelah konfrontasi terakhir, Geci menghilang. Membuat Varo lagi-lagi kelimpungan mencarinya. Demi meredam rindu, Varo menghabiskan nyaris seluruh waktunya untuk bekerja. Hal ini pula yang membawanya ke Jogja mengurus pekerjaan.

Di Jogja, ia tidak sengaja bertemu dengan Geci. Mulai dari sini, setting tempat berpindah-pindah antara Jakarta-Jogja. Sekali lagi, aku dibuat kagum dengan Geci yang bersikukuh enggan menerima bantuan finansial dari Varo.

KarmaVaro menggunakan alur maju. Semua permasalahan diselesaikan dan terjawab melalui dialog-dialog antartokoh. Ini juga menjadi ciri khas penulis yang lebih suka memainkan dan menunjukkan perasaan-perasaan tokohnya dominan melalui dialog.

Ini bukan kali pertama aku membaca tulisan kak Ainun Nufus, dan aku mendapati bahwa ciri khas penulis tetap terbawa dan terasa di dalam novel ini. Terutama teknik show dalam setiap dialognya dan juga pemilihan diksinya, sangat mencirikan penulis.

Meski premis cerita KarmaVaro cenderung sudah umum, namun buku ini tetap menawarkan sesuatu yang berbeda. Konfliknya pun berputar pada keengganan Varo untuk berkomitmen dan mengakui perasaan. Namun, aku suka bagaimana Varo berani mengubah beberapa hal dalam hidupnya ke arah yang lebih baik, demi mendapatkan Geci.

Hanya satu hal yang menggangguku ketika membaca KarmaVaro ini, yaitu banyaknya penggunaan kata-kata j****g yang membuatku sering menutup buku sejenak untuk ngelus dada. Saltik masih kujumpai satu-dua, tetapi tidak mengganggu dan penulisan cenderung sangat rapi untuk ukuran novel indie.

Satu masukan dariku, mungkin spasi antar paragraf bisa dikecilkan apabila nanti cetak ulang, untuk menjaga bumi kita juga dengan menghemet kertas (maklum anak Pecinta Lingkungan di kampus *dikeplak). Akhir kata, novel ini sangat cocok dibaca bagi pecinta roman lokal yang tidak terlalu berat dan konflik njilemet.

Type Your Coment Here^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s