Diposkan pada GPU, Lokal, Review

[REVIEW] Arial vs Helvetica – Nisa Rahmah

IMG20180701120818-01Judul: Arial vs Helvetica
Penulis: Nisa Rahmah
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2018
Tebal: 248 halaman
ISBN: 978-602-0382-63-0

Blurb:

Arial punya cara untuk menganalogikan seseorang; dengan menggunakan karakteristik font style. Meski bernama Arial, dia sendiri ingin menjadi Helvetica yang disenangi dan menjadi favorit desainer.

Omong-omong soal Helvetica, Arial cukup terkejut saat bertemu kembali dengan cewek pemilik nama itu. Setelah tiga tahun, Helvy masih saja mendendam atas kejadian saat mereka bertarung dalam final cerdas cermat Fisika. Cewek itu terlihat begitu serius, seperti merasa perlu membuktikan kemampuannya. Apalagi setelah kecelakaan yang menimpa dirinya dan mengakibatkan ayahnya meninggal dunia, Helvy terlihat sinis memandang kehidupan dan mimpi.

Arial sendiri juga merasa perlu membuktikan kemampuannya dalam desain grafis patut dibanggakan. Agar pilihannya masuk jurusan multimedia demi menentang keinginan sang ayah yang seorang dokter, dimaklumi.

Selain pembuktian diri, lomba desain poster juga menjadi reuni bagi Arial dan Helvetica. Ajang itu membuka kelanjutan kisah keduanya. Kisah yang membuat mereka mempertanyakan kembali mimpi masing-masing.

*

Latar belakang kak Nisa sebagai guru SMK benar-benar tercermin dalam novelnya yang ini. Setiap kegiatan dan metode belajar sampai kurikulum sekolah kejuruan dijelaskan dengan lumayan rinci. Aku sebagai pembaca jebolan sekolah umum jadi tahu apa-apa saja yang membedakan sekolah kejuruan dan sekolah biasa.

Di bab-bab awal, jujur aku sempat kesulitan meraba ke mana arah cerita Arial vs Helvetica ini mengarah. Namun, di halaman 100-an satu persatu permasalahan yang hendak dipaparkan dalam tulisan ini mulai terlihat dan semakin seru untuk diikuti hingga halaman terakhir.

Awalnya, aku menyangka bakal disuguhi kisah percintaan ala remaja yang bermula dari rasa benci. Tapi ternyata buku ini lebih dari itu, kisah cintanya sendiri malah tenggelam oleh persahabatan yang dibangun secara perlahan tapi pasti oleh kedua tokih utamanya.

Tidak sampai di situ, aku juga mengacungkan jempol pada bagaimana penulis mengangkat kisah Helvy yang seorang disabilitas berjuang mengeluarkan diri dari trauma dan skeptisme tingkat tinggi pada dunia.

Hubungan orangtua-anak yang dingin juga mendapat porsi yang lumayan dari sisi kehidupan Arial. Resolusi hubungan ini aku suka, sederhana tapi ngena. Seorang anak hanya ingin secuil perhatian dari orangtua untuk meluruhkan perasaan marah dan dendam, hal ini yang perlu diperhatikan oleh orang-orang tua supaya tidak salah kaprah memperlakukan anak. Bisa-bisa hubungan kekeluargaan ini merenggang seperri hubungan Arial dan ayahnya.

Bicara tokoh, tentu Arial dan Helvy nggak bisa ditinggalkan. Arial, cowok berkacamata kelas 2 SMK yang gemar menggeluti desain grafis, kerap menjadi wakil sekolahnya dalam kompetisi-kompetisi desain grafis. Dituliskan, Arial ini tipikal teman baik yang selalu mengiyakan apa saja yang temannya minta. Ia juga orang yang gigih dalam usaha mencapai tujuannya, salah satunya ditunjukkan ketika ia berusaha mendapatkan maaf dari Helvy. Sampai nyabut tanaman punya kakaknya begitu, wkwkwk.

Namun, Arial juga suka blak-blakan mengungkapkan apa yang dirasanya benar, terutama kepada Helvy. Hubungan mereka yang sempat membaik sampai merenggang dan kembali ke titik semula saat Arial memberi “tamparan kejujuran” kepada Helvy.

Kemudian ada Helvy yang … oh, I adore her so much! Helvy luar biasa pemberani! Berkubang di lubang trauma mendalam selama tiga tahun, cewek ini dibantu Arial secara perlahan berusaha mengalahkan traumanya dan menghadapi dunia yang sebelumnya ia pandang dengan skeptis.

Kak Nisa betul-betul berhasil menciptakan tokoh super yang awalnya begitu menutup diri menjadi lebih percaya diri dan terbuka terhadap dunia. Helvy yang awalnya kehilangan sauh, berhasil mencari tambatan lain dalam hidupnya. Melalui Helvy, kak Nisa juga berhasil menyampaikan pesan bahwa kekurangan fisik tidak akan menjadi rintangan dalam meraih tujuan hidup asal kita bersedia berusaha untuk menggapainya.

Selain dua remaja ini, ada pula beberapa tokoh pendamping yang turut menyemarakkan perjalanan Arial dan Helvetica dalam meraih tujuan-tujuan mereka. Salah satunya Fanny, sahabat Arial, yang awalnya bikin keki tapi akhirnya buat aku menaruh respek besar kepadanya 😂 ada pula kak Ana, kakak Arial, yang kudaulat sebagai sister goal. Juga Nora, yang begitu sabar mendekati Helvy meski dicueki habis-habisan oleh Helvy-versi-suram.

Arial vs Helvetica merupakan karya pertama kak Nisa yang kucicip. Meski aku belum bisa membandingkan gaya tulisannya di buku ini dengan buku sebelumnya, ternyata aku suka. Gaya bahasanya cukup ringan dan nge-teen, sehingga mudah untuk diikuti.

Alurnya sangat rapat dan meski menggunakan alur campuran, pergeseran antarsetting-nya sangat halus. Tidak begitu terasa lompatannya, tapi aku selaku pembaca langsung bisa meraba kapan saatnya kilas balik maupun sekembalinya ke masa kini(?) *ya Allah ribetnya bahasaku*

Menggunakan sudut pandang orang ketiga, isi kepala tokoh-tokohnya jadi lebih bisa dipahami. Aku pribadi sangat terbantu dengan ini, jalan pikiran dan alur berpikir tokohnya jadi bisa kita baca dengan lebih mudah.

Untuk pesan moral, seperti yang sudah kusinggung di beberapa postingan sebelumnya, banyak. Konflik mayor maupun minor yang disajikan dalam novel ini, berhasil dieksekusi dengan cukup baik.

Buku ini sangat kurekomendasikan untuk kalian yang suka bacaan ringan ala fiksi remaja, tapi nggak ringan-ringan amat karena konflik kompleks yang disajikan di dalamnya. Bosan dengan kisah abege yang cuma mikir cinta-cintaan, Arial vs Helvetica bisa jadi alternatif bacaan untuk kita tahu bahwa remaja nggak selalu sumpek dengan masalah pacaran.

Sampulnya cakep ya, ini masuk jajaran sampul novel favoritku. Bukan hanya karena nilai seninya yang oke, tapi sampul ini menggambarkan salah satu adegan di dalam novel. Adegan yang juga merupakan favoritku dari Arial vs Helvetica.

Bagiku kesuksesan mereka bukan ketika Helvy menjadi juara kelas atau Arial menjuarai lomba desain grafis, tapi kesuksesan terbesar mereka ada di sini. Helvy berhasil keluar dari cangkang emo-nya dan memulai hidup sebagaimana mestinya. Arial berhasil membantu Helvy untuk menghadapi ketakutan terbesarnya.

Pas sudah baca novelnya, aku bersyukur banget bahwa akhirnya sampul ini yang dipakai. Padahal sebelumnya aku nda terlalu suka wkwk *ditempeleng kak Nisa* Aku tidak ingat kapan terakhir kali nemu sampul novel yang begitu pas menggambarkan adegan krusial(?) dari ceritanya.

Pokoknya aku suka dan aku berharap bakal menemukan lebih banyak fiksi remaja sejenis Arial vs Helvetica yang nggak melulu menyoroti kehidupan asmara tokohnya. Sudah saatnya adek-adek kita dibuat baper oleh nilai-nilai yang lebih penting dari sekadar cinta monyet.

Type Your Coment Here^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s