Diposkan pada GPU, Lokal, Review

[REVIEW] Salju Pertama di Hokkaido – Angelique Puspadewi

IMG20171203100233-01Judul: Salju Pertama di Hokkaido
Penulis: Angelique Puspadewi
Penerbit: GPU
Tahun terbit: 2017
Tebal: 256 halaman
ISBN: 978-602-03-7668-4

Blurb:

Telah ada chemistry antara Yasmin, Rain, dan Kitaro sejak duduk di sekolah dasar, dan mereka masih terlalu belia untuk menyadarinya.

Lima belas tahun kemudian, ketiganya bertemu. Yasmin yang baru putus dari kekasihnya jatuh cinta kepada Rain. Pria yang kerap gonta-ganti perempuan itu seakan kena batunya setelah bertemu Yasmin. Sementara Kitaro juga jatuh cinta pada gadis yang dicintai sahabatnya itu.

Pada hari ketika Rain hendak melamar Yasmin, gadis itu menjadi korban gempa bersama Kitaro, yang saat itu menyewa jasa Yasmin sebagai pemandu. Demi menebus rasa bersalahnya, Kitaro membawa Yasmin berobat ke Hokkaido.

Yasmin yang kehilangan ingatan karena gempa menerima lamaran Kitaro. Ia merasa pria itu telah menjadi malaikat penolong baginya. Namun, ketika Rain mendatanginya di Hokkaido, Yasmin terjebak dalam pilihan pelik, yang mungkin akan mrnyakiti mereka bertiga…

***

Review:

Meski belum tahu perasaan yang membuatnya melihat pelangi sepanjang hari, dia mengangguk. Jatuh cinta pada Allah yang telah menakdirkan perkenalannya dengan Rain, bisa bukan?–halaman 47

Sejak halaman awal, aku suka sekali dengan sosok Rain. Mulai dari sikap heroiknya sebagai bocah sampai ia yang digambarkan sebagai playboy di usia dewasa, semuanya bagiku sangat menarik.

Seorang playboy yang terbiasa menaklukkan gadis-gadis ini mendadak menjadi pria pemalu dan kikuk ketika ia bertemu pertama kali dengan Yasmin. Bayangkan bagaimana memesonanya Rain ketika ia mendadak menjadi orang aneh dan nyaris mirip penguntit demi bisa melihat Yasmin bekerja. Aku memang selalu dibuat jatuh cinta oleh tipikal hero seperti Rain, makanya tidak heran ketika disodori Rain aku langsung suka dengan karakternya.

Di sisi lain, ada Kitaro, pria Jepang yang menetap di Indonesia dan berteman dekat dengan Rain sejak kecil. Ia sangat bertolak belakang dengan Rain yang ekstrovert dan suka gonta-ganti pasangan seperti mengganti pakaian dalam. Kitaro jenius, lebih pendiam, dan menghindari hubungan asmara bila tidak benar-benar cinta.

Yasmin, sang wanita utama, yang mirip Dian Sastro, aku juga suka tipikal heroine seperti dia. Pekerja keras, ceria, dan yang lebih penting mampu menolak dengan tegas ajakan mantan untuk kawin lari. Ia juga tidak melow karena patah hati akibat putus cinta.

Novel ini ditulis melalui sudut pandang orang ketiga serba tahu, memungkinkan pembaca benar-benar memahami bagaimana masing-masing perasaan tiga tokoh utama. Dan meski lompatan antara satu bagian dengan dengan bagian lain relatif cepat, tapi itu sama sekali tidak memberikan kesan buru-buru. Saya justru sangat menikmati membaca novel ini.

Tak hanya itu, chemistry antara Rain dan Yasmin sangat kental terasa sejak mereka pertama kali bertemu. Perasaan mereka yang meledak-ledak dan tulus benar-benar manis dan membuat saya tidak sabar membuka halaman selanjutnya untuk mengetahui interaksi mereka lebih jauh.

Oh ada satu persamaan yang menghubungkan ketiganya selain bahwa mereka pernah berjumpa di masa kanak-kanak. Baik Rain maupun Kitaro sama-sama bertemu kembali dengan Yasmin di bengkel Ko Acan tempat gadis itu bekerja dari pagi hingga sore.

Namun, cara mereka bersikap pada saat bertemu dan berkenalan benar-benar berbeda. Ada kontradiksi yang begitu kentara akan bagaimana kedua laki-laki itu mendekati Yasmin. Rain yang playboy nyatanya malu, kikuk dan harus menunggu dan menguntit Yasmin seminggu sebelum akhirnya mereka berkenalan secara resmi. Di sisi lain, Kitaro yang pendiam bagi saya tampak agresif karena langsung mengajak Yasmin berkenalan tanpa ada kesan malu atau pendiam.

Gaya bercerita kak Angelique juga sangat santai dan mengalir. Pemilihan katanya sederhana namun dirangkai dengan indah sehingga menjadi satu-kesatuan kalimat yang enak dibaca. Tak sampai di situ, penulis juga kerap menyelipkan pelajaran hidup dan sentilan yang mengingatkan pembaca akan hal-hal yang sederhana yang sering dilupakan, seperti bersyukur, tanpa terkesan menggurui.

Serupa dengan Rain, Kitaro juga merasa jatuh cinta sejak pertamuan pertama dengan Yasmin. Mengetahui bahwa Yasmin juga menjadi pemandu wisata pada hari Minggu, Kitaro memutuskan untuk menyewa jasa Yasmin untuk memandunya ke Yogyakarta.

Nahasnya, ketika di Yogya bencana datang berupa gempa bumi, membuat Yasmin kehilangan ingatan parsial. Merasa bersalah, Kitaro membawa Yasmin ke kampung halamannya, Hokkaido, agar gadis itu mendapat perawatan terbaik dan mendapatkan kembali ingatannya.

Di sisi lain, Rain sangat kelimpungan karena Yasmin mendadak hilang. Niatnya untuk melamar gadis itu pun menjadi batal karena Yasmin hilang tanpa jejak sama sekali. Baru pertama kali jatuh cinta dan memikirkan prospek pernikahan, Rain harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa ia kehilangan Yasmin.

Aku suka dengan cara penulis membuat ketiga tokoh utamanya berputar pada lingkaran yang sama namun tidak menyadarinya. Hal ini bisa membuat posisi Rain dan Kitaro sejajar dalam usaha mereka mendapatkan Yasmin tanpa ada unsur mengkhianati antarsahabat.

Meski demikian, jika diharuskan memilih aku akan tetap berada di tim Rain. Selain alasan yang kusebutkan pada postingan sebelumnya, rasa frustrasi karena kehilangan Yasmin dan kegigihannya untuk mencari keberadaan Yasmin benar-benar menyentuh.

Ohiya, aku suka sekali dengan cover novel ini. Sebelum membaca blurb-nya, aku benar-benar tidak memiliki ekspektasi apa pun akan isi ceritanya. Hanya bahwa buku ini benar-benar menarik mata karena perpaduan warna merah muda dan putih bersih yang sangat manis.

Kemudian masuk ke dalam buku, ternyata alurnya benar-benar rapat. Langsung menembak pada intinya tanpa banyak hal atau deskripsi bertele-tele yang tidak perlu. Namun di beberapa bagian aku merasa alurnya terlalu rapat dan malah terkesan buru-buru.

Mengambil setting Indonesia-Jepang, penulis seolah tidak kehabisan referensi tentang spot-spot menarik yang dapat dikunjungi turis. Deskripsi singkat yang sederhana akan tempatnya enak dibaca, sama sekali tidak terlihat seperti buku panduan wisata, terutama ketika Kitaro dan Yasmin mengelilingi Jepang.

Membicarakan tokoh, aku sudah singgung bahwa aku sangat menyukai Rain sejak awal. Namun makin ke balakang, Kitaro juga sangat … wow! Penulis benar-benar membangun karakter setiap tokoh dalam novel ini. Bagusnya lagi, menurutku semuanya dalam porsi yang imbang, tidak ada yang antagonis maupun protagonis karena masing-masing bisa menjadi keduanya tergantung sudut pandang. Aku. Benar. Benar. Suka.

Selain mengisahkan tentang perjuangan meraih cinta, novel ini juga menyinggung tentang arti penting persahabatan, pengorbanan, dan mengikhlaskan. Buku ini cocok banget untuk dibaca siapa saja untuk menghabiskan waktu luang.

Type Your Coment Here^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s