Diposkan pada Indie/Self Publish, Lokal, Review

[REVIEW] Seattle, Love, and Food – Julia Inna Bunga

Processed with VSCO with 10 presetJudul: Seattle, Love & Food
Penulis: Julia Inna Bunga
Penerbit: Gee Publishing
Tahun terbit: 2018
Tebal: iv + 365 halaman
ISBN: 978-602-5796-47-0

Blurb:

Ketika cinta kembali bersemi hanya dari sebuah cita rasa masakan yang dimasak dengan kesungguhan hati.

Orang bilang tak hanya dengan paras cantik dan tubuh seksu saja, mata bisa terpikat kemudian menjadikan hati jatuh cinta kepada lawan jenis.

Sebab ketika peran indera pengecap turut mengambil bagian akan sesuatu yang masuk ke dalam mulut? Maka disitulah, benih cinta juga bisa tumbuh mekar bersemi dan menghasilkan buah.

Masalahnya? Akankah sang pemilik hati segera menyadari segala kesalahan yang ia perbuat? Mampukah sesuatu yang sudah hampir layu, membusuk dan akan mati itu dapat segera kembali seperti sedia kala? Semoga saja…

——————————-

Review:

Kejadian buruk menimpa pasangan pengantin baru Divo-Julie. Bagaimana tidak, ketika sedang asyik bercumbu tidak sengaja kaki Divo menendang pipa gas hingga menyebabkan bangunan restoran runtuh.

Beruntungnya, Julie selamat karena Divo sempat mendorongnya menjauh. Buntungnya, Divo sendiri menjadi korban, ia tertimpa reruntuhan. Hal tersebut membuatnya harus masuk ruang operasi.

Namun, kemalangan tak cukup sampai di situ, ternyata tim dokter tak sengaja salah memotong saraf Divo hingga menyebabkan pria tersebut mengalami amnesia alias hilang ingatan. Wow. Terkedjoet? Sama!

Ini adalah kali pertama aku membaca karya Julia Inna Bunga, seperti yang kusebutkan, aku lumayan dibuat kaget. Selain insiden-insiden yang kusebutkan di atas, hal lain yang membuatku sangat kaget adalah adegan seks yang ditulis cukup berisik.

Penilaian ini sangat subjektif, tetapi jika boleh jujur aku cukup terganggu dengan segala “aacchh ouucchh”. Seperti … gimana ya, aku jadi malu-malu sendiri ketika membaca bagian itu. Aku kan anak rumahan dan anak baik-baik yang masih polos banget *ditempeleng*

Jadi, Divo akhirnya hilang ingatan setelah kegagalan operasi pasca insiden pipa di pantry restoran Delicious de la Fonte milik Julie. Hal ini membuat Gischa getol memanfaatkan momen ini untuk menjauhkan Divo dari Julie.

Loh kok bisa? Memangnya siapa Gischa? Wanita ini ternyata sahabat Divo sejak kecil. Mereka berdua sama-sama berasal dari Padang, Indonesia. Gischa telah menaruh hati sejak lama kepada Divo, sedangkan Divo tidak. Hal ini membuat Gischa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Divo sebagai miliknya.

Selain Gischa yang jahatnya serupa villain di serial Jodoh Wasiat Bapak, ada pula beberapa tokoh lain yang turut mendampingi kisah pasang-surut Julie-Divo. Seperti Jamie, koki senior yang tampaknya menaruh hati kepada Julie. Selain itu, ada pula Nugie, chef seleb yang ternyata adalah abang Divo. Selain mereka ada beberapa tokoh lain lagi yang turut melengkapi novel ini.

Sejauh ini, aku mendapati banyak saltik dan beberapa huruf kapital yang tidak pada tempatnya. Saranku (dan harapanku) mak Lia dan tim Gee memperbaiki kesalahan ketik ini pada cetakan Seattle, Love and Food berikutnya.

Penggunaan huruf kapital di hampir semua dialog juga cukup menggangguku. Saranku lagi, jika ingin menunjukkan emosi tokohnya sebaiknya tetap menggunakan huruf biasa, tetapi bisa ditambahkan kalimat penjelas akan situasi dan kondisinya. Misal tokoh A sedang marah, sedang teriak, memberikan penekanan, dan sebagainya.

Ini kali pertama aku baca karya penulis, dan aku lumayan terkejut dengan scene-scene yang disajikan dalam novel ini. Ide dasar ceritanya lumayan seru, Mak Jul mengeksekusinya dengan gaya sinetron hingga kita sebagai pembaca dibuat seperti emak-emak yang geregetan karena tokoh atau adegan yang kelewat ngeselin.

Bagiku Mak Jul berhasil menciptakan tokohnya sesuai dengan desain yang memang dibawakan sedari awal. Tokoh jahat dibuat jahat secara total, dan tokoh protagonis dibuat helpless dan betul-betul baik, kuat, dan kesabaran luar biasa banyak. Aku salut dengan tokoh Julie di sini yang mampu menerjang segala macam badai yang menerpa hidupnya.

Meski judulnya mengandung kata Seattle, bagiku roma Seattle tidak terasa dalam novel ini. Justru aku malah mendapati dialek bahasa Padang, yang tidak mengherankan karena beberapa tokoh berasal dari kota tersebut. Hal ini membuat novel ini lebih … apa, ya? Membumi?

Hanya saja, ada banyak hal yang perlu diriset secara lebih mendalam oleh Mak Jul agar naskahnya ini menjadi lebih matang. Selain itu, kesalahan ketik juga lumayan banyak. Kalimat tidak efektif dan ketidaksesuaian EBI juga masih sering dijumpai, hampir di setiap paragraf ada. Aku berharap kesalahan teknis seperti saltik dan tanda baca ini bisa diperbaiki pada cetakan-cetakan selanjutnya.

Type Your Coment Here^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s