Diposkan pada Kubus Media, Lokal, Review

[REVIEW] The Lady Escort – Kinanti WP

IMG20180522123654-01Judul: The Lady Escort
Penulis: Kinanti WP
Penerbit: Kubus Media
Tahun terbit: 2018
Tebal: iv + 194 halaman
ISBN: 978-602-6731-10-4

Blurb:

Jani tak pernah menyangka keputusannya untuk kembali ke Indonesia justru mendorongnya untuk terjun ke profesi yang tak pernah ia bayangkan. Meski awalnya hendak menolak, namun pesona pria itu justru membuat Jani setuju untuk menjadi kekasih bayaran.

Tama Tjitro tak pernah menduga bahwa untuk mendapatkan hak asuh atas anaknya dia harus mencari perempuan untuk menjadi pasangannya. Namun, begitulah wasiat sang mantan istri. Setelah lama tak pernah akrab dengan wanita, Tama harus menyewa seorang Lady Escort untuk memperdaya semua orang.

Namun, bagaimana bila kebersamaan itu justru membuat mereka jatuh dalam jebakan takdir cinta?

***

Review:

Pernah dengar istilah Lady Escort? Kalau aku sih, jujur belum pernah wkwk *katrok* Gimana kalau cewek bayaran? Tentu kalian sudah sering dengar istilah itu, bukan?

Jani, seorang fotografer freelance yang telah menyelesaikan pendidikan masternya di Belanda, akhirnya kembali ke Indonesia. Namun, bukannya mendapat pekerjaan sesuai dengan keahliannya, Jani justru berakhir menjadi lady escort alias cewek bayaran yang bekerja untuk Tama.

Tidak, jangan berpikir bahwa cewek bayaran di sini sejenis dengan PSK. Jani dibayar untuk menjadi pasangan pura-pura Tama demi melancarkan urusan hak asuh anak. Mendiang istri Tama meninggalkan wasiat yang menyatakan bahwa Tama dapat memperoleh hak asuh hanya ketika pria tersebut menikah.

Sekilas permasalahan yang ditawarkan novel The Lady Escort ini tampak klise dan sudah umum, ya. Namun, buku bersmpul tosca ini tetap memberikan sesuatu yang berbeda dan menjadikannya berbeda dengan novel-novel lain dengan premis serupa.

Pertama, ada Kinanti Anjani, atau Jani (Tama lebih suka panggil Kinanti). Ia adalah fotografer freelance yang baru pulang dari negeri kincir angin. Cantik, Jawa tulen (membuat ibu Tama langsung luluh disodori calon mantu macam Jani), dan ternyata perempuan ini memiliki trauma mendalam atas kejadian buruk yang menimpanya semasa ia hidup di Belanda. Jani ini juga bukan tipikal perempuan kebanyakan, ia tidak begitu berminat dengan gelimangan harta Tama. Ia juga bukan perempuan yang mau-mau saja didikte oleh laki-laki, yang membuat dia jadi tokoh kesukaanku di sini.

Tama, seorang duda beranak satu yang sedang memperjuangkan hak asuh atas anaknya. Arsitek sekaligus anak bungsu keluarga Tjitro yang super kaya. Ia tumbuh di tengah-tengah keluarga Jawa yang masih begitu saklek mempertahankan budayanya. Oleh karenanya ia juga memiliki masa lalu yang buruk akibat darah dan “kekunoan” keluarga Jawa-nya, membuatnya menjadi laki-laki yang enggan dekat dengan perempuan. Kalau kalian orang Jawa yang masih “kuno” pasti paham bahwa orangtua hanya ingin menantu Jawa tulen.

Kemudian ada Citra, satu-satunya sahabat Jani. Melalui Citra inilah Jani akhirnya berakhir menjadi lady escort untuk Tama, meski tidak secara langsung. Citra selalu mendukung keputusan Jani dan selalu ada untuk temannya.

Surya, sahabat sekaligus rekan kerja Tama, meski lebih terlihat seperti asisten Tama 😂 laki-laki ini yang menyodorkan Jani kepada Tama tanpa tedheng aling-aling. Bersama-sama Citra, Surya menjadi peran penting dalam kelangsungan hubungan Tama dan Jani.

Selain itu, ada keluarga Tama yang begitu senang dan terbuka menyambut Jani dalam lingkaran keluarga mereka, yang dikenalkan Tama sebagai calon istrinya. Semua senang dengan kabar bahwa Tama akhirnya memiliki perempuan untuk dijadikan pendamping, terutama ibunda Tama.

Terakhir, ada keluarga Jesslyn, mantan adik ipar Tama yang menjadi orangtua asuh sementara bagi Adrian, putra Tama. Mereka juga menjadi pihak yang begitu mendukung hubungan Tama-Jani.

Bagaimana bila kontrak kerja Jani sebagai lady escort ketahuan? Terlebih publik dan keluarga sudah mengenal Jani sebagai calon istri Tama? Owkay, I’ll tell ya dat that’s not gonna happen. Kenawhy? Karena mereka mainnya smooth, Tama treat Jani dengan romantis dan malah baper. *berasa kek netijen Malay akutu*

Tama jatuh cinta betulan kepada Jani. Berkali-kali Tama bahkan menawarkan Jani untuk mengubah hubungan mereka yang terikat kontrak menjadi ikatan pertunangan yang sesungguhnya. Surprised? Aku sih no. Jani memang cantik dan luwes dalam membawa diri, nggak heran kalau pak duda bisa jatuh hati.

Namun, Jani menolak. Penolakan ini adalah salah satu hal yang menjadi konflik utama dalam novel bersampul cantik ini. Alasannya, Jani mengalami masa lalu yang buruk dan trauma mendalam. Penolakan-penolakan terhadap tawaran dan perasaan Tama ia lakukan semata-mata karena ia khawatir bahwa ketakutan dari masa lalunya bakal menghantui hubungan mereka di masa mendatang.

Namun sayangnya, perasaan dan pergolakan batin Jani sebagai perempuan yang memiliki sisi gelap di masa lalu, tidak terlalu dieksplor. Pun dengan Tama, yang juga memiliki masa lalu tidak menyenangkan, tidak terlalu digali. Padahal, masa lalu buruk mereka menjadi kunci atas keberlangsungan hubungan dan resolusi konflik mereka.

Mungkin penulis tidak ingin menjadikan novel ini terlalu bertele-tele makanya memilih untuk mengungkapkan ketakutan dan emosi mereka melalui pemaparan langsung, bukannya membiarkan pembaca menelaah dan mengenal tokoh-tokohnya melalui emosi-emosi mereka. Tapi cara ini oke juga, karena penyelesaian konfliknya menjadi lebih cepat dan tidak diulur-ulur karena terlalu fokus pada perang batin kedua tokoh.

The Lady Escort ditulis melalui sudut pandang orang ketiga, keputusan bagus karena pembaca jadi lebih mudah memahami jalan pikiran tokoh-tokohnya. Menggunakan alur maju yang cukup rapat, ini juga keputusan yang bagus karena isi buku jadi tidak membosankan karena bertele-tele. Tapi aku tetap mengharap perasaan tokoh-tokohnya diungkap lebih gamblang.

Aku cukup menikmati gaya bahasa penulis, meski masih ada beberapa dialog yang kaku, tapi sama sekali tidak menyusutkan semangatku membaca buku ini karena narasinya begitu mengalir. Untuk saltik juga masih dijumpai, tapi seperti sebelumnya, hal ini tidak terlalu menganggu. Aku hanya berharap di cetakan selanjutnya line spacing agak dilonggarin, karena yang ini terlalu rapat.

Ohiya aku juga agak terganggu dengan fakta bahwa keluarga Tama begitu menerima dengan tenang Jani tinggal serumah dengan Tama, meski dengan kamar terpisah. Padahal dijelaskan bahwa keluarga Tama adalah penganut adat Jawa yang masih kental. Tapi ini cuma pendapat subjektif ehehe.

Aku jatuh cinta banget dengan desain sampulnya. Cantik. Perpaduan warnanya pas dan cakep. Pokoknya novel ini wajib dimiliki, terutama bagi kalian pecinta romansa.

Type Your Coment Here^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s