Diposkan pada Lokal, Penerbit BIP, Review

[REVIEW] Unconciously in Love – Kincirmainan

IMG20180522130618-01Judul: Unconciously in Love
Penulis: Kincirmainan
Penerbit: Bhuana Sastra
Tahun terbit: 2018
Tebal: 460 halaman
ISBN: 978-602-455-367-8

Blurb:

Aku tidak pernah menyangka, ada yang jauh lebih menyakitkan daripada ditinggalkan tanpa pilihan. Yang paling menyakitkan adalah ketika aku melihat banyak sekali pilihan, tetapi tidak bisa memilih satu di antaranya.

Aku Kekira Lamusu. Pendamba cowok-cowok sampingan, bukan cowok yang digilai banyak perempuan. Aku menyebutnya sebagai sindrom Elektra.

Suatu hari sewaktu aku sedang mengurus pernikahan–mmm, pernikahan orang, bukan pernikahanku, aku bekerja di wedding organizer–takdir mempertemukanku dengan Raksa Hardian, si calon superstar sekaligus pewaris takhta Hardian Group.

Aku sih biasa saja, tapi sepertinya Raksa tertarik padaku. Sampai-sampai mengajakku menikah.
Aku?

Tentu saja mau. Siapa juga yang akan menolak cowok dan kebahagiaan yang akan Raksa berikan?

Sindrom Elektraku? Lupakan saja dulu. “Nggak ada rasa sayang yang disengaja,” katanya. “Semua hadir secara alami, kamu nggak perlu menjelaskan apa-apa.”

***

Review:

Dilamar laki-laki calon superstar sekaligus pewaris takhta Hardian Group, Keke alias Kekira tentu tidak menolak. Cincin berlian telah tersemat di jari manisnya. Persiapan pernikahan pun sudah nyaris sempurna dilaksanakan.

Hanya saja, hal yang luar biasa tidak terduga terjadi, Raksa Hardian si calon superstar mendadak membatalkan pernikahan ala Cinderella mereka di depan Pendeta yang siap menikahkan dua sejoli ini. Alasannya begitu abu-abu dan tidak jelas. Namun, tidak ada yang dapat Keke lakukan selain menuntut kerugian materil atas pernikahan yang tidak terlaksana tersebut.

Unconciously in Love adalah buku kedua dari penulis yang kubaca. Seperti biasa, aku dibikin jatuh cinta dengan gaya berceritanya yang santai dan begitu mengalir. Gayanya begitu khas sehingga meski baru membaca dua karya penulis, aku langsung bisa mengenali cirinya. Pokoknya, kesan pertamaku untuk buku ini lumayan bagus.

Masih asyik dalam kubangan sakit hati dan kekecewaan akibat ditinggalkan di depan altar, Keke harus dihadapkan dengan berita yang luar biasa mengejutkan. Raksa si mantan calon suami dikabarkan tengah koma akibat percobaan bunuh diri.

Whut? Terkedjoet? Sama! Bila jadi Keke, mungkin aku bakal bereaksi sama, berada di ambang rasa percaya dan tidak percaya. Siapa yang bakal langsung percaya kalau orang tipikal Raksa Hardian bakal melakukan hal itu? Terlebih, bukan laki-laki itu yang ditinggalkan di detik-detik akhir menjelang pernikahan.

Namun, di saat-saat itulah kemudian hidup Keke bersinggungan dengan laki-laki bernama Top, yang nantinya bakal memiliki andil besar dalam novel bersampul manis ini. Its so … we o we. Aku langsung suka dengan cowok ini wkwkwk 😂 untuk tahu kenapa, besok aku bakal balik bahas karakter-karakter dalam novel ini.

Serius deh, sensasi ketika membaca The Chronicle of a 35 yo Woman seolah terulang. Aku dibikin geregetan dan gemas setengah mati karena kelakuan tokoh-tokohnya dan menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi. Memangnya apa yang sebenarnya terjadi, sih?

Novel ini diambil dari sudut pandang Kekira selaku tokoh utama. Aku suka sekali dengan karakter Keke di sini. Keras kepala tapi bagiku lebih cenderung ke realistis. Ditinggal 5 detik sebelum menikah itu nggak pernah mudah, dan aku justru setuju sepenuhnya dengan bagaimana Keke menyikapi sakit hatinya. Mungkin terkesan jahat karena Keke tetep kekeuh mempertahankan pandangannya yang agak merendahkan motif usaha bunuh diri Raksa, tapi kalau kamu sudah disakiti sedemikian banyak, kamu mungkin bakal memahami perasaan Keke sepenuhnya.

Top, yang muncul di masa koma Raksa, mengaku telah berteman sejak kecil dengan Raksa. Seperti kubilang kemarin, aku suka tokoh ini sejak awal karena tampilannya yang cukup nyleneh dengan rambut pink ala bintang Korea. Sangat unik terutama settingnya di Indonesia (ya meski di sini banyak juga cowok berambut pink), kalau Top ada di lingkunganku, mungkin dia bakal disangka wong edan dengan pilihan warna rambutnya.

Selain itu, Top ini apa ya … semacam bisa menjadi penyeimbang bagi kekeraskepalaan dan ketidakacuhan Keke akan kondisi Raksa. Top selalu memberikan argumen balasan yang bisa membuat Keke mingkem dan meninjau ulang perasaannya. Aku yang merasa mirip Keke karena kekeraskepalaannya, bener-bener langsung dibuat makin suka dengan karakter laki-laki macam ini.

Untuk Raksa sendiri, aku masih melihat dia sebagai sosok yang misterius dan agak ngeblur(?) meski selama ia tidur dalam koma Top sudah banyak mengungkapkan sosok seperti apa Raksa itu. Aku nggak ngerti gimana harus menuliskan dia dalam kata-kata karena belum pernah menjumpai sosok seperti dia, jadi susah mau menggambarkan. Dia ini tokoh paling rumit dalam novel ini. Tapi aku tahu, pasti berat menjalani hidup sebagai Raksa.

Seperti yang kubilang sebelumnya, aku begitu menikmati narasi dan gaya bahasa Kincirmainan. Vibes Kin terasa banget dalam setiap paragrafnya. Masih menggunakan sudut pandang orang pertama,pembaca tidak hanya ditempatkan sebagai pembaca, tapi juga dituntut untuk lebih memahami dan melebur mengikuti jalan pikiran si tokoh utama.

Tokoh-tokohnya aku suka. Mereka melengkapi satu sama lain meski terkadang juga bikin geregetan. Alurnya pas meski pada bagian-bagian awal aku merasa ngos-ngosan mengikuti ritmenya yang cepat.

Novel ini membuat kita menyadari bahwa jangan sampai kita gegabah dalam mengambil keputusan, terutama pernikahan. Silau karena popularitas dan harta itu nggak sebanding dengan kebahagiaan masa depan kita. Tak sampai di situ, novel ini juga memberi pesan bahwa kita harus lebih peduli terhadap orang-orang di sekitar kita. Terkadang apa yang terlihat baik-baik saja justru malah sebaliknya, seperti yang terjadi kepada Raksa.

Sama seperti novelnya terdahulu, penulis benar-benar berhasil mengajak pembaca bertanya-tanya apa yang sebetulnya terjadi dan jalan hidup bagaimana yang dipilih oleh tokoh-tokohnya. Novel ini sangat kurekomendasikan bagi kalian yang menyukai romansa tapi tidak hanya berputar pada masalah percintaan cheesy.

Type Your Coment Here^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s