Diposkan pada Blogtour, Lokal, Review, Twigora/Roro Raya Sejahtera

[BLOGTOUR] Review The Man Who Plays Piano (Extra Surprising Photo Challenge)

20180929_152529_0001PENERBIT RORO RAYA SEJAHTERA
THE MAN WHO PLAYS PIANO
RUFIN DHI
Dimensi: 14 x 20 cm
Tebal: 240 hlm
ISBN : 978-602-51290-1-8

Harga: Rp 67,000

IMG_20180929_152912

AKU TELAH JATUH CINTA… SEBELUM BERTEMU DENGANNYA

Bagaimana menjelaskan perasaan yang tak ada logikanya ini? Jatuh cinta pada orang yang belum pernah dia temui….

Anka sembarangan menamainya Tuan Pianis, orang yang bertanggung jawab atas permainan piano indah yang mengalun dari gedung di sebelah perpustakaan. Laki-laki itu begitu misterius sekaligus memancing rasa penasaran. Pesan-pesan yang dia tinggalkan untuk Tuan Pianis dibalas dengan tak kalah antusiasnya.

Anka tak ingin laki-laki itu terus jadi anonim. Sudah saatnya berhenti menerka-nerka siapa jati diri Tuan Pianis yang sebenarnya. Anka pun memberanikan diri untuk merisikokan hati demi memuaskan rasa penasarannya. Dia ingin lebih dekat pada orang yang bertanggung jawab atas binar-binar di mata dan debar-debar di dadanya ini.

Sayangnya, Anka tak tahu kalau setelah pertemuan penuh kesan itu, Tuan Pianis yang dia kagumi itu kelak akan membuatnya merasa terpuruk. Risiko jatuh cinta, kalau kata orang-orang. Salah sendiri mencurahkan segenap perasaan tanpa pikir panjang hingga yang kini tersisa sekarang hanya hati yang kosong… dan retak.

***

IMG_20180929_152937

“Terkadang, manusia itu merasa sudah peduli, tapi nggak sadar kalau dia sebenarnya cuma sibuk memedulikan dirinya sendiri tanpa mengacuhkan sudut pandang orang lain.” –p. 25

The Man Who Plays Piano bercerita tentang Anka yang begitu terkesima dengan denting piano yang terdengar dari jendela bagian belakang perpustakaan fakultas. Bak disihir, Anka memutuskan untuk mendekat ke sumber alunan musik klasik yang tengah dimainkan dan nekat merekam permainan tersebut.

Usut punya usut, Anka melakukannya untuk adiknya, Erika, yang terbaring di ranjang pesakitan rumah sakit. Anka begitu ingin membuat semangat Erika kembali melejit, karenanya ia membawakan rekaman tersebut agar adiknya kembali tersenyum mengingat momen ketika ia masih bermain piano.

Eits! Kalian pasti berpikir kalau merekam diam-diam adalah tindakan kurang terpuji. Tenang, Anka meninggalkan sebuah catatan kepada Tuan Pianis–panggilan yang diberikan Anka untuk pianis misterius– yang berisi kekaguman dan izin untuk merekam. Yang tidak disangka, Tuan Pianis membalas suratnya dan balas memanggil Anka sebagai Nona Pengagum. Sweet, isn’t it?

Anka adalah tipikal cewek pendiam dan jarang bersosialisasi sehingga banyak yang menyebutnya ansos. Namun, ia memiliki seorang sahabat yang memiliki sifat berlawanan dengannya, Winona. Melalui Winona, Anka mengenal Rizzi, Bastian dan Dirga, meski bisa dibilang ia mengenal Dirga lebih dulu karena mereka sekelas.

Setelah mengenal tiga cowok tersebut, hidup Anka jadi lebih berwarna. Terutama karena Nona Pengagum dan Tuan Pianis masih terus berhubungan melalui surat-surat yang mereka tulis. Anka sangat menyukai Tuan Pianis meski cewek itu belum pernah bertemu dan tidak tahu siapa orang yang memainkan piano tersebut.

“Kalau cinta membuatku jadi orang egois, lebih baik aku nggak usah jatuh cinta ….”–p. 125

Tokoh favoritku dari novel ini adalah Dirga yang cuek dan supercool. Tapi bukan karena itu aku menyukai karakter ini, tapi lebih ke bagaimana cowok ini begitu peka dan peduli terhadap lingkungan di sekitarnya. Meski ketus dan mulutnya cadas, Dirga adalah sosok yang penyayang dan sangat baik. Sama seperti Anka, aku awalnya superkesal kepada Dirga, tapi semuanya berubah ketika perlahan Dirga menunjukkan sosoknya yang tidak pernah diperlihatkan kepada orang lain.

Kalau tokoh yang paling menarik simoatiku, tentu saja Anka. Selain telah menjadi yatim piatu dan adiknya sakit parah, Anka juga harus berjuang sendiri memenuhi kebutuhan hariannya dengan bekerja paruh waktu. Bagiku, Anka bukan seorang ansos, ia lebih ke orang yang krisis kepercayaan, hal ini diperparah dengan kejadian-kejadian yang mengantarnya pada titik terendah hidup. Dikhianati berkali-kali, ditinggalkan, dan menjadi bahan olok-olok oleh orang-orang yang dianggapnya teman.

Tokoh yang paling memberikan inspirasi adalah Erika. Meski tahu bahwa ia tidak memiliki banyak waktu, ia selalu berusaha untuk tersenyum dan meyakinkan orang-orang bahwa ia baik-baik saja. I mean, orang biasanya kalau sudah penyakitan biasanya suka ngedrama dan sulit menerima keadaan hidup, tapi Erika tidak demikian. Karenanya aku juga sangat menyukai karakternya.

Ini baru pertama kali aku membaca karya Rufin Dhi alias kak Ipin dan aku cukup menikmati tulisannya. Ditulis melalui sudut pandang Anka, seluruh kegalauan Anka bisa dengan mudah ditangkap oleh pembaca. Cuma, seperti kebanyakan novel yang menggunakan PoV orang pertama, beberapa hal tidak dijelaskan dengan begitu detail.

Aku salut dengan bagaimana penulis mengolah konfliknya. Bukan hanya tentang kisah cinta dan pencarian Tuan Pianis dan Nona Pengagum, tapi ia juga mengangkat konflik-konflik yang sering dialami remaja dalam persahabatan. Lika-liku yang harus dihadapi Anka untuk mengetahui siapa sebenarnya Tuan Pianis sama sekali tidak mudah. Kesalahpahaman dan pengkhianatan berkali-kali harus ia telan.

Twist-nya sangat oke. Sejak awal aku sudah bisa menebak-nebak dan beberapa tebakanku benar. Namun tetap ada hal-hal yang membuatku berucap, “Wow!” berkali-kali karena arahnya sama sekali tidak terbaca. Wajib baca novel ini bagi kalian pemburu plot twist yang oke!

Pesan penulis sangat tersampaikan melalui bagaimana Anka menyikapi hal-hal yang membuatnya jatuh. Bagaimana Anka tetap tegar menghadapi berbagai masalah yang menerpa. Rasanya ikutan nyesek ketika membaca bagian-bagian ketika Anka menghadapi pengkhianatan di depan matanya oleh orang yang disayanginya.

Overall, aku cukup menyukai buku ini. Aku sangat merekomendasikannya bagi kalian yang suka novel Young Adult. Selain tidak terlalu tebal, novel ini bakal selesai dalam sekali duduk karena page turner banget dan kalian nggak bakal bisa berhenti membaca manisnya kisah Tuan Pianis dan Nona Pengagum, juga bagimana susah-senangnya ketika mereka berdua saling mencari.

Ohiya, aku ingin memberi satu masukan nih bagi penerbit. Sampul belakang dari novel ini ada yang saltik. Kurang huruf s di kata play. Mungkin di cetakan-cetakan selanjutnya kesalahan ini bisa diperbaiki supaya lebih estetik 😉

***

It’s time for photo challenge! To be honest, aku baru aja berswafoto dengan novel ini karena aku lupa. Akhirnya, aku mandi dulu dan poles lipstik demi foto begini, meski hasilnya sama aja kayak nggak mandi wkwk.

Makku sampai tanya, “Mau kemana, Ai? Kok tumben jam segini mandi dan pakai jilbab segala?” Bikos beliau paham kalau libur gini aku ogah mandi. Ya oke emang jorok sih tapi ya gimana ya, aku memang suka menghemat air gitu *halaah*

Foto pertama nih, pose “I am happy but I’m misqueen.”

Processed with VSCO with se3 preset

Selanjutnya adalah sederet reaksi ketika masuk ke adegan-adegan yang bikin gregetan yang rasanya pengen membacok sesuatu.

IMG_20180929_152252

Abis lihat fotoku langsung minta rujukan ke dokter spesialis mata, ya. Siapa tahu kalian mendadak katarak atau buta separuh abis lihat foto-fotoku. Wkwkwk.

Dan terakhir, jangan lupa pantengin terus sesi blogtour novel The Man Who Plays Piano yaa. Kamu bisa cek postingan Chit-Chat aku bersama kak Rifi sebelumnya untuk tahu lebih banyak tentang novel ini. Pastikan juga kamu ikutan giveaway-nya besok, ya!

 

8 tanggapan untuk “[BLOGTOUR] Review The Man Who Plays Piano (Extra Surprising Photo Challenge)

  1. Astagaaa… Aku salfok ke photo challenge nya… Kamu nya ucul amat.. hehehe…
    But, overall aku suka banget hasil review kamu. Jadi semakin tertarik sama novel ini setelah baca hasil review kamu. Terimakasih buat review nya… Nice review dan photo challenge nya.. 😊😊❤❤

  2. Dari review ini, aku dibuat penasaran dengan sosok Anka, Dirga dan juga Erika. Seperti disadarkan bahwa kisah novel ini bukan hanya seputar si tuan pianis dan nona pengagum, tapibada juga kisah lainnya. Hubungan persahabatan, keluarga, kasih sayang dan perjuangan. Menarique.

  3. Ini adalah novel yang aku tunggu sejak lama terbitnya. Dan rasanya emang pantas jadi salah satu juara karena unsur di novel ini semuanya sangat memenuhi, sangat loveable banget.

  4. Sepertinya aku bakalan nyesek kalau baca novel ini.

    Baru tahu Anka rekam permainan Tuan Pianis buat Erika aja udah gini rasanya. Belum lagi ditambah perjuangan Anka. #cengengamat

  5. Banyak hal yang membuat novel ini menarik. Terutama tentang misteri Tuan Pianis yang bisa dibilang incaran nomer satu pembaca untuk menguak sosoknya. Di lain hal setelah membaca review ini aku semakin tertarik dengan kehidupan sosial Anka yang katanya ‘Ansos’, biasanya tipe-tipe gini diam-diam romantis plus ngegemesin dan cukup puitis kalau hanya disuruh merangkai kalimat dalam sebuah surat. So really good. I hope lucky now it.

  6. Uhmmm kok mereka gemesin ya surat-suratn begitu XD Penasaran sama si Tuan Pianis. Dan aku jadi pingin kenal sama Anka yang katanya dianggep ansos itu huhu :(( Dan dan dannnn aku terkejoet liat fotonya, kok bisa foto muka datar? XD

  7. sinopsis nya bagus dan novel ini menarik dan aku penasaran banget gimana karakter anka dan si pianis itu,mulai dari si anka yang sayang bangett sama adik nya dan si pianis yang belom tahu siapa dia mungkin juga si anka kenal orangnya tapi dia ngga tahu kalo itu si pianis misteriusnya, pokok nya aku yakin cerita nya beda sama novel-novel yang pernah aku baca biasanya

Type Your Coment Here^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s